Pertemuan Kembali dengan Tante Untung di Bandung
Hari berganti hari, dan tak terasa sudah hampir dua tahun aku kuliah.
Hubunganku dengan ketiga wanita kakak beradik tersebut tetap berlanjut,
sementara hubunganku dengan tante Untung tetap berjalan via surat atau
kadang kami saling menelepon. Tante Untung punya alamat PO. Box khusus
di Medan, sehingga surat-surat cintaku padanya selalu dapat dia terima
dan terjaga kerahasiaannya.
Pada suatu hari kuterima telepon darinya. Tante Untung sudah di Bandung bersama rombongan ibu-ibu pejabat dari Medan.
Menurut rencana siang hari ini rombongan tersebut akan kembali ke
Jakarta, tante Untung masih tinggal 1 ? 2 hari lagi, alasannya mau
nengok famili. Sebelum ibu-ibu bertolak kembali ke Medan, maka tante
Untung akan sudah tiba di Jakarta bergabung dengan rombongan tersebut.
Siang itu dia mengundangku untuk segera menemuinya di hotel Panghegar.
Segera aku menuju hotel tersebut, langsung aku menuju ke lantai 5, ke
kamar 509 tempat menginap kekasihku itu. Hatiku berdebar menahan
kegembiraan dan kebahagiaan saat kuketuk pintu kamar tersebut, tak lama
kemudian pintu terbuka dan segera aku menghambur masuk dan segera
memeluk serta mencium muka dan bibirnya untuk melampiaskan rinduku
kepadanya.
Setelah beberapa saat kami tenggelam dalam pelukan dan ciuman kerinduan,
direnggang-kan pelukannya, dipandanginya aku sepuas-puasnya, nampak
tante Untung masih cantik dan menggairahkan. Tubuhnya tambah padat
berisi ditutup baju tipis yang tembus pandang. Tanpa banyak bicara
segera kulepas baju dan pakaian dalamnya, sehingga tak sehelai benangpun
melekat pada tubuhnya, kubaringkan badannya dia atas tempat tidur
telentang menghadapku. Segera kulepas seluruh pakaianku, aku sengaja
tidak memakai celana dalam, sehingga begitu kulepas celana jeanku, maka
tugu monasku langsung mencuat tegak berdiri. Kuserbu memeknya dengan
jilatan-jilatan lidahku, kembali erangan yang pernah kudengar; terdengar
merdu di telingaku, menambah gairah dan hasratku.
Aku bangkit dan jongkok tepat di dekat mukanya, segera kusorongkan
penisku ke mulutnya, tanpa kuminta tante Untung segera memegang penisku
dengan kedua tangannya dan memasukkan ke mulutnya. Dihisap dan kadang
pelan digigitnya penisku, sehingga semakin mengeras dan tegak.
Segera kuputar posisi tubuhku, dalam posisi tengkurap menindihnya,
kujilati memeknya, sementara penisku terus dikulum dan dijilatinya.
Pada akhirnya, tante Untung tak tahan lagi. Dia memintaku untuk segera
memulai permainan. Dipegangnya penisku dan dibimbingnya masuk ke liang
vaginanya, penisku segera bergerak cepat dan keras menghunjam memeknya.
Kami bercumbu benar-benar seperti kuda binal, diangkat tinggi-tinggi
pantatnya, menyambut serbuan penisku yang menyentak dengan keras dan
cepat. Kepalanya bergerak-gerak kiri-kanan, kadang mendongak, tak
henti-hentinya terdengar erangan dan pekikan kecil dari mulutnya, saat
hunjaman kontolku terasa nikmat olehnya.
Batang penisku yang keras menggesek dinding dalam vaginanya berirama dan
cepat. Hingga sesaat kemudian terasa kontolku disiram oleh cairan
memeknya saat orgasme dicapainya. Aku teruskan gerakan pantatku, yang
terus mendorong dan menarik kontolku keluar masuk memeknya. Tempat tidur
menjadi berantakan nggak karuan, bantal guling sudah berserakan jatuh
di lantai, keringat keluar deras dari pori-pori kulitku, menetes jatuh
membasahi tubuhnya. Kami bercumbu sambil bergulingan, kadang aku di atas
menindihnya, kadang dia di atas menduduki tubuhku. Sampai akhirnya
denyutan di kontolku semakin terasa, kupercepat genjotanku.., akhirnya
dengan hentakan keras dan geraman mulutku tercapailah klimaks.
Kusiram memeknya dengan air maniku, kutekan penisku dalam-dalam ke
memeknya. Tante Untung memberiku kesempatan sejenak untuk menuntaskan
klimaksku, sesaat kemudian dibaliknya badanku telentang, serta merta
digerakkan pantatnya hingga penisku yang masih tegang menggesek dinding
vaginanya, semakin cepat dan keras dan sesaat kemudian orgasme yang
kedua dicapainya. Dipeluk erat tubuhku, mulut kami saling berpagut dalam
ciuamn yang panjang. Lidah kami tak henti-hentinya beradu.., pokoknya
kami benar-benar menikmati senggama kami dan melampiaskan rasa rindu
kami.
Tubuh tante Untung tetap menindihku. Penisku tetap kubiarkan di dalam
memeknya, anehnya walau sudah kumuntahkan air maniku tapi kontolku tetap
berdiri meskipun tidak sekeras tadi, sekali-kali kudenyutkan sehingga
gerakan kontolku terasa oleh tante U. Tante U membalas dengan mengejan,
sehingga terasa kontolku seperti ada yang meremas. Begitu berkali-kali
kami lakukan, sampai akhirnya kontolku mengeras dan mengeras lagi.
Kurobah posisi tubuh kami, kuatur posisi tubuhnya dalam posisi nungigng,
dan segera kembali kontolku beraksi menghujani memeknya. Erangan dan
pekikannya terdengar keras tak ditahan. Diputar kepalanya dan kedua
tangannya meraih mukaku, kembali kami berciuman hangat dan mesra,
genjotan penisku terus berlangsung.
Oh..eghm..ough..aah..aah..terus..teruus..nugie..ough.. ooh..enaakk..
eghm..kubuat tante Untung, mabuk kepayang, merintih,
mengelinjang-ngeinjang tubuhnya hingga orgasme dirasakan kembali
olehnya. Aku baringkan tubuhnya dalam posisi miring, dari belakang dan
dalam keadaan kakinya menutup, terus kugenjot keras memeknya. Terasa
olehku penisku dijepit oleh gumpalan-gumpalan dinding vaginanya.
Beberapa saat kemudian aku duduk bersimpuh, tante U menghadap dan
memelukku. Digerakan pantatnya naik-turun, sehingga penisku bebas keluar
masuk menggesek dinding vaginanya. Mulutku terus mengulum payudaranya,
dia benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa. Semakin lama-semakin
menggila gerakan tubuhnya, kepalanya seringkali mendongak ke atas
disertai lolongan hysteria.. ooh.. oh.. enaak.. nugie.. ough..,
tiba-tiba dipercepat gerakan dan mulutku dilumat oleh mulutnya,
eghmm..eghmm..dan tercapai lagi orgasme olehnya. Cairan vaginanya yang
hangat mengguyur batang penisku.
Kubiarkan sebentar tante Untung menikmati orgasmenya, kemudian
kubaringkan lagi tubuhnya dan kubuka pahanya lebar-lebar. Kutindih
tubuhnya dan kuserbu memeknya dengan hunjaman dan sentakan kontolku.
Keras dan cepat gerakanku..akhirnya denyutan kontolku terasa,
kupercepat.. dan semakin cepat.. Lagi-lagi tante U merasakan
sentakan-sentakan keras di dinding memeknya, malahan mengimbangi
gerakanku. Aksiku itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya diapun
merasakan kenikmatan yang luar biasa dalam senggama itu, hingga kami
berdua menrcapai orgasme bersama.
Kurebahkan badanku disampingnya, tante U merebahkan kepalanya didadaku,
kaki kanannay disilangkan di atas perutku, terasa memeknya yang hangat
dan berlendir menempel di perutku. Mulut kami saling berpagut, melumat
dan memainkan lidah. Benar-benar kami berdua saling menumpahkan rasa
rindu dan cinta. Enggan rasanya aku mengakhiri moment itu. Gumpalan rasa
yang terpendam selama kami berpisah, rasanya masih belum habis. Tanpa
terasa air mataku meleleh membasahi pipiku. Aku berbisik sangat
merindukan dan mencintainya dan enggan berpisah lagi dengannya.
Diusapnya air mataku, dicium dan dibelainya mukaku dengan segenap rasa
kasihnya. Kami saling tersenyum dan berbicara setengah berbisik untuk
menumpahkan rasa rindu kami. Tiba-tiba dia bertanya tentang kelanjutan
affairku dengan ketiga wanita kakak beradik Yanti, Rina dan Rani. Aku
memang pernah cerita ke dia perihal affairku dengan mereka, namun aku
memang merasakan bahwa bagaimanapun perasaan cinta dan kasih sayangku
tetap pada tante U. Tante U mencubitku gemas dan berkata: gombal..kamu
nugie.. Aku benar-benar iri dan cemburu pada mereka.
Sesaat kemudian dia bangkit dan segera menghampiri pesawat telepon.
Segera tante U memesan makanan kesukaanku, Steak daging dan tak lupa
pula dia menambah pesanan-nya dengan dua butir telor setengah matang dan
segelas susu segar untukku. Untuknya dipesannya slad dan roti tawar
serta segelas air putih. Setengah jam kemudian pesanan datang. Saat itu
kami baru saja bercumbu kembali, penisku baru beberapa kali menghu-jani
memeknya. Dengan agak terpaksa, kucabut kontolku, segera aku melompat
bangun dan mengenakan piyama, pintu kamar kubuka sedikit dan segera
kuterima pesanan tersebut, sambil tak lupa sekedar tip buat pelayan
hotel itu.
Kami makan di atas ranjang, tanpa busana. Bergantian kami saling
menyuapi, kadang-kadang mulut kami berpagutan, makanan yang sedang
kukunyah aku pindahkan ke dalam mulutnya, demikian bergantian.
Kami bereskan tempat makan dan sisa makanan, dan sesaat kemudian tubuh
kami mulai bercumbu, bergumul dan bercinta kembali. Kami benar-benar tak
mau banyak kehilangan waktu. Kami bercinta hingga menjelang maghrib.
Kami turun dari pembaringan untuk mandi, bersama-sama kami menuju ke
kamar mandi, sambil bercanda kami mandi bersama. Kami berendam bersama
di bak mandi whirphool dengan air yang hangat, air di bak whirphool
diberinya sabun cair hingga berbusa banyak, baunya lembut dan wangi.
Kubasuh sekujur badannya dengan sabun cair yang dibelinya di Singapore.
Lembut dan harum baunya, bergantian kami saling menyabuni. Saat dia
menyabuni tubuhku, sengaja kontolku diremas-remas. Reaksinya anda pasti
tahu. Kontolku kembali berdiri dan mengeras. Segera kudorong tubuhnya
hingga bersandar pada dinding bak whirphool. Kubuka pahanya, kutindih
tubuhnya dan kudorong masuk penisku ke dalam memeknya. Di bak whirphool
kami kembali bercinta, terdengar bunyi air berkecipak, lehernya kuhujani
dengan ciuman bibirku. Di bak whirphool kami bercinta dalam beberapa
posisi, dan posisi terakhir yang membuatnya mencapai orgasme adalah
posisi dimana aku telentang menyandar dinding whirphool dan tante U
aktif mengerakkan pantatnya naik-turun mengocok penisku keluar masuk
memeknya. Kedua tangannya memegang bahuku, sementara tanganku
meremas-remas pantatnya, kedua buah dadanya kuhisap dan kujilati dengan
mulut dan lidahku.
Posisi menunggang kuda seperti itu benar-benar membuatnya nikmat.., hingga dua kali dia mencapai orgasme.
Kuangkat berdiri tubuhnya, satu kakinya aku tumpangkan di atas dinding
whirphool, dari belakang kuhunjamkan kontolku dan kuhentak cepat dan
keras. Denyutan kontolku semakin terasa, erangan dari mulutnya semakin
keras saat kupercepat gerakan penisku menggesek dinding vaginanya.
Sekali lagi tante U mencapai orgasme, dan akhirnya air maniku tertumpah
dalam memeknya, mengiringi klimaks yang kucapai.
Kembali kami berendam, tanganku mengosok memeknya untuk membersihkan
liang sengamanya dari air maniku, penisku dibersihkan tante U dengan
menggosok lembut.
Selesai mandi kukeringkan tubuhnya dengan handuk lembut yang dibawanya.
Saat aku mengeringkan memeknya, dengan lembut dan mesra memeknya
kujilati. Berikutnya ganti tante U mengeringkan tubuhku, saat tante U
mengeringkan selangkanganku diku-lum dan dihisap penisku. Aku memejamkan
mata menikmati apa yang tante U perbuat.
Kami benar-benar menikmati apa yang saat itu kami lakukan, tak terlintas
rasa sesal atau dosa atas perbuatan kami tersebut. Selesai mandi
kubopong badannya dan kubaringkan ditempat tidur, kembali mulut dan
lidahku menghujani memeknya dengan ciuman dan jilatan-jilatan yang
memabukkan.
Kami bermain satu ronde. Setelah itu kami berpakaian, tante U membuka
kopernya dan mengambil satu bungkusan untuk kemudian diberikannya
padaku, saat kubuka bukan main senang hatiku, dibelikannya aku 2 stel
baju mahal, dan sepasang sepatu ber-merk kesukaanku. Segera kukenakan
baju dan celana pemberiannya, memang nampak pas betul model dan
ukurannya dengan badanku. Kupeluk dan kucium tante U sambil tak lupa
kuucapkan terima kasih padanya. Sebelum kami keluar kamar, dibuka tasnya
dan diberikan padaku sebuah kotak kecil terbungkus rapi kertas kado.
Segera kubuka, dan ternyata sepasang arloji merk SEIKO dengan model yang
cantik. Kukenakan jam tangan wanita pada tangannya dan sebaliknya tante
U mengenakan jam tangan laki-laki di tanganku. Kembali kami berciuman
dengan mesra.
Tiba-tiba terdengar telpon berdering, kulepas pelukanku dan kuraih
gagang telepon. Terdengar suara resepsionis di seberang, memberitahu
kalau pesanan taksi sudah tiba. Kami berdua segera turun, tak puas-puas
aku memandang tante U. Sungguh anggun dan cantik sekali dan serasi betul
dengan baju yang dikenakannya. Aku benar-benar berun-tung menjadi
kekasihnya.
Kami makan malam di rumah makan TIZI'S di dago, sambil menikmati life
musicnya. Kemudian kami berjalan-jalan di BIP, banyak orang memandang
kami berdua. Mereka pasti mengagumi kecantikan tante U. Pukul 21.00 kami
sudah ada di dalam kamar. Tanpa menunggu aku segera beraksi
mencumbunya, dan akhirnya tubuh kami menyatu, dalam gelora birahi yang
membakar jiwa dan raga kami.
Kami bercumbu sepanjang malam, hingga pukul 03.00 dini hari. Dengan
perasaan puas kami tidur lelap, setelah bercinta sepanjang hari.
Dering telepon membangunkan kami, segera kuraih; ternyata resepsionis
cantik hotel ini menyampaikan bahwa sudah pukul 09.00 WIB. Sebelum tidur
aku memang sudah pesan pada resepsionis, agar dibangunkan jam 09.00
WIB.
Segera kami mandi dan bergegas ke stasiun, kuantar tante U ke Jakarta
menyusul rombongannya yang akan berangkat ke Medan pukul 15.25 WIB.
Sesampai di stasiun Gambir segera kupanggil taksi untuk mengantar kami
ke hotel tempat rombongan mengi-nap. Pukul 13.40 WIB kami tiba di hotel.
Tante U kuantar hingga ke lantai dimana kamarnya berada. Kebetulan lift
kosong hanya kami berdua, kesempatan itu kami pergunakan untuk
berciuman, seolah tak ingin kami berpisah. Kubiarkan pintu lift menutup
kembali, walaupun sudah sampai di lantai tujuan, bahkan segera kupencet
tombol ke lantai teratas. Di balkon lantai teratas yang sepi kami
kembali berpelukan dan berciuman.
Tiba saatnya kami harus berpisah. Berat nian perasaanku melepas tante U
kembali ke Medan. Tak terasa air mataku bergulir jatuh, nampaknya tante U
juga sangat kehilangan. Didekap dan dipeluknya tubuhku erat-erat,
diciumi wajah dan mulutku. Perlahan direnggangkan pelukannya, mulutnya
sudah tak kuasa lagi mengucapkan sesuatu, air mata nampak deras mengalir
dari pelupuk matanya. Dibuka tasnya dan diambilnya sejumlah uang serta
diselipkan dalam saku bajuku. Aku menahan tangannya dan kuminta untuk
jangan memberiku uang seperti itu. Kupaksa dia menerima kembali uangnya
dan segera kupeluk erat lagi tubuhnya dan kucium mulutnya. Akhirnya
kulepas pelukanku dan aku bisikan ucapan selamat jalan. Kembali kami
bergandengan menuju lift untuk turun ke lantai kamarnya, pintu lift
terbuka dan segera tante U keluar. Kuantar tante U dengan pandanganku
hingga ke pintu kamarnya. Diketuknya pintu kamar dan sesaat kemudian
pintu terbuka, seorarng wanita sebaya dengan tante U terlihat dan sesaat
kemudian tante U hilang dari pandanganku, masuk ke dalam kamarnya.
Kereta Parahyangan berjalan meninggalkan stasiun Gambir menuju Bandung.
Hatiku masih merasa sedih dan kehilangan dengan kepergian tante U.
Mataku memandang jauh keluar jendela dan pikiranku melayang entah
kemana, melamunkan kembali saat-saat aku bersama dengan tante U. Hingga
tiba-tiba aku dikejutkan oleh sapaan seorang gadis. Kupalingkan wajahku
melihatnya, dan berdesir hatiku melihat kecantikannya. Diper-lihatkan
tiketnya padaku, tempat duduknya rupanya bersebelahan denganku.
Kugeser dudukku merapat ke jendela, si gadis cantik menjatuhkan
pantatnya dikursi di sebelahku. Sesaat kami saling berdiam diri.
Akhirnya kuberanikan diri menyapanya dan kami bersalaman saling
mengenalkan diri. Ternyata gadis ini enak diajak ngobrol, dia kuliah di
UNPAD jurusan Sastra Perancis. Kami cepat akrab dan dia tak keberatan
mem-beri alamat kostnya.
Tiba di Bandung pukul 19.30 WIB. Rupanya tak ada yang menjemputnya.
Kutawarkan jasa untuk mengantarnya hingga ke tempat kost. Dengan gembira
diterimanya tawaranku. Dia kontrak rumah di Sekeloa bersama seorang
adik lelakinya yang kuliah di ITB tingkat pertama. Setelah mengobrol
sejenak aku pamit pulang dan berjanji akan main ke rumahnya di saat-saat
dia tidak lagi sibuk.
End