Nama saya Florence Kim, saya adalah warga Indonesia keturunan Korea yang
sekarang sedang berada di Italy untuk tujuan bisnis Saya mempunyai
pacar bernama Erick, seorang warga Roma, tapi sekarang saya tidak
menceritakan pengalaman saya bersama Erick.
Pagi itu, kami makan pagi berdua sambil ngobrol-ngobrol ringan. Erick
ada meeting dengan factory jam 11 pagi, jadi saya mungkin menghabiskan
waktu dengan jalan-jalan sendiri, tapi tidak masalah soalnya saya sudah
terbiasa kemana-mana sendiri. So, setelah cium perpisahan dengan Erick,
saya mulai berbenah diri.
Pagi itu udara summer kebetulan sangat indah buat jalan-jalan. Saya
memakai skirt-dress katun pendek, sekitar 10 cm di atas lutut, motif
floral, dengan canvas-shoes di padukan dengan straw hat yang saya beli
di Yogyakarta. Sip deh, komentar saya setelah mengecek sekali lagi di
cermin. Baju ini bagus juga, leher bajunya yang berbentuk kotak, low cut
memperlihatkan dada saya yang putih dan berukuran 36B.
Waktu saya turun dari kamar, melewati lobby yang crowded, saya sempat
merasa tatapan mata yang tertuju pada saya, apa karena saya manis atau
jarang kali ngeliat cewek Asia, tapi lumayanlah buat tambah PD.
Saya berjalan-jalan menyusuri jalan kecil di samping hotel. Tidak lama
kemudian saya sudah berada di tengah toko-toko dan kafe-kafe kecil.
Mungkin daerah pasar kali, soalnya saya baru pertama kali berada di
Roma. Entah bagaimana melukiskan perasaan kalau kita berada di
tengah-tengah kota yang ramai tapi semuanya asing buat kita. Something
scary tapi agak menggoda karena banyak hal yang baru, seperti tampang
cowok-cowok Italy yang lagi cofee break dengan baju kantor yang rapi.
Kulit mereka yang kecoklatan, dagu yang keras dan mantap plus itu lho..
sisa cukuran yang masih kebiru-biruan bikin gemes pengen ngelus dech,
juga perasaan mau nyobain bagaimana rasanya bercinta dengan mereka.
So, saya berjalan santai dengan pikiran yang bercampur aduk. Akhirnya
saya berhenti di depan bus station, kemudian setelah saya pelajari rute
di map saya, saya mau pergi ke Via Condotti. yah, buat window shopping.
Waktu saya naik ke bus tersebut, bus-nya lumayan padat, tapi tidak
seperti di Jakarta sampai bergelantungan di pintu. Paling lorong bus itu
penuh orang berdiri sambil berpegangan di pipa besi. Saya juga tidak
menemukan tempat duduk jadi saya pilih tempat yang kelihatan agak kosong
sambil berpegangan di pipa juga. Kemudian bus-nya melaju.
Saat menit-menit pertama, saya melihat-lihat sekeliling sambil bus itu
melaju. Saya merasakan angin bertiup menerpa wajah dan bermain dengan
rambut saya yang lurus sebahu. Waktu bus itu berbelok, saya merasa ada
sentuhan ringan di paha saya.. kaget, saya melihat sekeliling tapi tidak
ada yang ganjil. Saya melihat orang-orang sedang bercakap-cakap dan
tidak ada yang mencurigakan. Saya mulai merasa ganjil karena keasingan
saya di tengah-tengah bahasa mereka.
Karena tidak menemukan sesuatu yang aneh, saya pikir itu mungkin
ketidaksengajaan, lalu saya kembali memandang lurus ke depan. Tapi tidak
lama kemudian, tangan itu kembali lagi dan kali ini mengelus pantat
saya dengan pelan. Saya menoleh mencari siapa tapi lagi-lagi tidak ada
yang saya dapati. Lalu bus berhenti, masuk lagi segerombolan orang
sehingga saya makin terhimpit. Saya pikir kalau sudah begini tidak
mungkin lagi orang itu berani pegang-pegang, tapi dugaan saya salah
karena tidak lama kemudian saya mulai merasakan tangannya di belakang
lutut saya, bergerak naik ke atas paha saya. Terus terang saya
terangsang sekali karena bagian tengah agak ke belakang dari lutut ke
paha itu salah satu daerah sensitif saya.
Antara perasaan gundah, mungkin sungkan siapa tahu ada yang
memperhatikan, tapi juga mulai terangsang jadi saya diamkan saja. Karena
tidak ada yang bisa saya lakukan di tengah kepadatan bus dan pikir
saya, toh dia cuma bisa pegang-pegang, lagi pula saya melihat di sekitar
saya itu banyak cowok-cowok berpakaian rapi yang mungkin mau makan
siang. So, insting iseng dan cuek plus pengen tahu saya lebih kuat
daripada perasaan malu. Saya ingin tahu sejauh mana tangan orang
tersebut bereaksi dan juga ngapain malu, nggak ada yang kenal saya ini,
lagian cowok-cowok yang dekat saya cakep-cakep.
Mungkin karena saya diam saja, tangan itu mulai berani bergerak perlahan
terus ke bagian atas paha tengah saya. Saya semakin grogi. Sambil
menahan rasa nikmat yang mulai menjalar dari paha, saya gigit bibir
saya, karena takut saya nanti bersuara (karena kebiasaan saya suka
berisik). Saya mencoba untuk menyatukan kaki saya supaya tangannya tidak
bisa menggerayang ke atas lagi tapi tidak bisa, karena bus itu
bergoyang-goyang, yang membuat badan saya jadi limbung sehingga kaki
saya harus agak direnggangkan supaya bisa berdiri dengan stabil.
Diantara perasaan nikmat plus tegang, tangan itu semakin berani kali ini
dia maju ke atas, menuju ke celana dalam saya. Tangannya mulai membuat
lingkaran-lingkaran kecil tepat di daerah sekitar lekukan pantat saya
sebelah bawah dan di atas vagina saya yang tertutup celana dalam. Wow,
makin terangsang plus grogi deh. Kali ini saya agak melenguh sedikit
tapi tidak mengundang perhatian penumpang sebelah saya, mungkin mereka
pikir saya kecapekan berdiri kali. Tapi si pemilik tangan ini makin
berani setelah mendengar desahan saya. Dia mulai menyisipkan jemarinya
ke dalam celana dalam saya yang mini itu. Tidak sulit karena mini, dia
bisa merasakan daerah itu mulai basah karena ulahnya. Sungguh sulit
untuk melukiskan perasaan saya saat itu.. mungkin pembaca bisa coba
untuk membayangkan posisi saya di daerah yang asing dan baru.
Karena dapat angin merasakan kebasahan saya, dia mulai berani membuka
bibir kemaluan saya dan memainkan jemarinya di antara kedua bibir itu
sambil sesekali melingkar-lingkar di clitoris saya. Aduh, pembaca
sungguh nikmat rasanya. Saking tidak kuat menahannya saya rapatkan lagi
paha saya. Lalu dengan tiba-tiba saya mencoba untuk menjebak tangannya
di antara paha saya, tapi refleksnya sangat bagus sehingga dia sempat
lolos waktu itu. Lumayanlah pikir saya untuk catch my breath again.
Jantung saya berdegup sangat kencang sampai-sampai saya takut kedengaran
sama yang lain. Kaki saya yang mulai lemas sehingga saya sedikit
bersandar di kursi yang terdekat.
Tapi tidak lama tangan itu kembali lagi kali ini saya merasa sesuatu
yang dingin di celah paha saya yang nantinya saya sadar mungkin itu
gunting or what and how? Karena berikutnya celana dalam saya sudah robek
terbelah dua. Tangannya semakin berani beroperasi di antara kedua bibir
vagina saya melingkar-lingkar dan mulai nenekan perlahan. Pelan namun
mesra. Kemudian saya mulai merasa jarinya membuka kedua bibir kemaluan
saya dan mulai memasukkan dua buah jarinya ke dalam vagina saya keluar
masuk sambil digesekkan ke daerah clitoris saya. Saya terpana karena
tidak menyangka dia seberani itu tapi tak kuasa untuk bertindak. Kaki
saya mulai lemas lagi mungkin karena kenikmatan yang dihasilkan oleh
gerakan jemarinya.
Saya terpaku oleh rasa itu, diam tak bergerak hanya bisa menikmati
sambil kuat-kuat menggigit bibir menahan nikmat itu. Perasaan yang tak
tertahankan itu membuat saya diam-diam berimajinasi bagaimana rasanya
kalau penis yang ada di dalam vagina saya. Dalam diam saya sangat
menikmati gerakan tangannya. Saya sudah sangat basah sekarang. Saya
kuatir nanti terdengar bunyi seperti clep.. clep.. Saya berdiri setengah
bersandar di situ antara perasaan grogi takut ketahuan tapi saya
berdiri diam di situ tidak bergerak sambil menikmati permainan
tangannya.
Tangan itu tidak berhenti juga mungkin dia dapat merasakan gerakan
dinding vagina saya yang makin intense. Saya merasa saya hampir orgasme.
Akhirnya tiba-tiba seperti gelombang saya merasakan suatu perasaan yang
sangat hebat, mungkin saya orgasme seperti dalam sedetik itu saya
berada di suatu tempat yang terang sekali.. sendirian. Untung saya masih
bisa menahan tidak menjerit walau susah sekali dan bibir saya terasa
sakit karena saya gigit keras sekali. Rasanya berdarah sedikit karena
ada rasa besi dalam mulut saya.
Setelah itu, saya kembali bisa merasakan kehadiran orang-orang di
sekitar dan membuka mata memandang jalan. Sambil menarik nafas panjang
saya berdiri tegak. Saya rapatkan kaki saya, dan seperti semula, tangan
itu sudah tidak ada. Saya lihat sekeliling, ada beberapa mata yang
memandang saya dengan shock tetapi saya cuek saja. Saya berbalik
memandang jalan kembali dan melihat ke jam tangan saya. Well, semua itu
terjadi hanya dalam 10 menit.
Di depan saya melihat ada bus station. Saya cepat melewati orang-orang
menuju pintu lalu saya turun. Setelah saya memijakkan kaki saya di
tanah, saya pandangi lagi bus yang mulai bergerak maju tapi ada suatu
gerakan yang menarik perhatian saya. Ternyata ada seorang cowok
berkemeja biru, berambut coklat tua dan berumur sekitar 30 tahun
mengangkat tangan dan memberi salute kecil pada saya seperti gaya
militer di dekat kening itu lho. Dia tersenyum (jujur saja, dia memang
ganteng. Kalau dia mendekati saya di sebuah café mungkin saya juga
tertarik oleh tampang Italy-nya yang rough but nice itu) Tak sadar, saya
pun tersenyum balik.
Begitulah pembaca. Saya mulai melihat sekeliling, ternyata saya sudah
satu blok di dekat Via Condotti. Saya mulai berjalan sambil masih
tersenyum simpul oleh pengalaman tadi. Pengalaman itu adalah salah satu
starter yang membuat saya mulai suka melakukan hal-hal tersebut di
tempat umum bahkan di Jakarta mungkin karena adrenalin yang berpacu
sangat cepat kalau kita tahu kita di tempat umum membuat saya selalu
ketagihan.
Wow, Masih begitu perasaan saya kalau mengingat kejadian itu, seperti
saya menulis sekarang ini, vagina saya sudah basah. Tinggal menunggu
nanti sore selesai jam kantor. Saya akan bertemu Erick, may be Erick can
help me now.
TAMAT